Tampilkan postingan dengan label GERAKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GERAKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

NURDIN DITEMBAK SAAT SEDANG SUJUD SHOLAT ASHAR

(Membantah Pernyatan POLRI, Bahwa Nurdin Ditembak Karena Melawan Saat Akan Ditangkap) 

 

Oleh :  Rangga Babuju




Rumah H. Abdullah Seno, Ayah Nurdin. Disinilah Nurdin ditembak di kamar (Foto Fayis Umar)

Terorisme dan Gerakan Penumpasannya oleh Densus (Detasemen Khusus) 88 MABES POLRI menjadi pembicaraan hangat ditengah masyarakat setiap ada gerakan Penangkapan. Demikian yang terjadi di Bima beberapa tahun terakhir. Hampir seminggu, pembicaraan Penangkapan Dahlan, Guru IPA, MAN I Kota Bima, Terduga (Versi POLRI) Teroris asal Gilipanda – Kota Bima, beberapa tahun lalu. Demikian pula saat Penangkapan Drg Yuniardi sepulang dari Sholat Jumat tahun 2012 yang lalu. Lebih-lebih stigma untuk Warga Penatoi dengan beberapa penangkapan 4 tahun terakhir.

Awal Tahun 2013 yang lalu, Kehebohan Dana Mbojo terkait Terorisme kembali terjadi setelah adanya penangkapan 7 orang Terduga Teroris, 4 diantaranya ditembak mati. 1 orang ditembak di Madapangga saat berada diatas Motornya untuk membawa Roti pesanan di Kab Dompu. Sedangkan 3 orang lainnya ditembak Mati di Ginte kab Dompu.  Lalu kemudian, tak kalah heboh dengan proses penangkapan Ustazd Iskandar, penjual Bakso dan rujak di Penatoi beberapa bulan lalu.

Kini, Kasus Penangkapan Terduga Teroris di Bima dan Dompu kembali terjadi, kemarin pada hari sabtu (20/9/2014). Empat orang Terduga Teroris ditangkap, 1 orang diantaranya ditembak mati saat sedang sujud raka’at ke tiga sholat Ashar dirumah Orang tuanya. Nurdin Alias Deo alias Si Kecil (23 thn) ditembak mati oleh Densus 88 Mabes Polri, sekitar pukul 16.00 Wita. Istri Nurdin, yang tidak ingin disebutkan namanya menjalaskan bahwa, saat suaminya masuk rumah, Istrinya sedang merapikan pakaian didalam kamar sempit yang luasnya hanya 3 x 4 meter. Kamar tersebut didalamnya memiliki lemari, meja dan tempat tidur.

“Abi menyuruh saya keluar dari kamar karena ingin Sholat, karena kamar kami sempit. Sekitar 1 menit lebih sedikit berada dikamar tamu, masuk 5 orang berpakaian preman tetapi bersenjata lengkap dan menutup muka seperti ninja. Saya diminta keluar dengan tanpa boleh bersuara dan saya diantar keluar oleh salah seorang diantara mereka” Kisahnya. Masih menurutnya, tidak sampai 2 menit kemudian, terdengar 2 kali letusan senjata, Lalu sunyi. Beberapa anggota Densus 88 membawanya keluar tetapi sudah terbungkus kantung mayat.

Menurut Istrinya, bahwa suaminya tersebut (Alm Nurdin), bila diperkirakan dari waktu Nurdin menyuruh istrinya keluar hingga terdengar letusan senjata, sekitar 3 menitan itu, diperkirakan, Suaminya sedang masuk pada rakaat ketiga. “Biasanya dengan interval waktu demikian, suami saya sedang masuk pada rakaat ke tiga. Hal ini saya berani katakan karena sudah hampir 4 tahun kami menikah, dan saya tau betul, lama dan khusu’ nya Sholat beliau” Jelasnya.

Beberapa keterangan dan bukti dilapangan yang saya dapatkan dari berbagai pemberitaan cetak dan online menjelaskan bahwa Nurdin ditembak pada saat Sujud Rakaat ketiga sholat ashar. Hal ini didukung oleh rekahan peluru dari leher bagian belakang tembus ke kepala. Sehingga, Pernyataan Karo Humas Mabes Polri, Boy Rafly bahwa Nurdin ditembak karena ingin melempar Bom ke aparat yang datang menangkap adalah Tidak benar atau sangat manipulatif. Disamping itu, Seorang yang betul-betul mendalami Ke-Islaman seperti Nurdin, tidak akan bergeming sedikitpun apabila sedang menunaikan Sholat, meski sekalipun gempa atau ada musuh yang datang menyerang. Sehingga tak jelas alasan pihak Polri yang menyatakan bahwa Nurdin ditembak karena melawan dan atau karena mau melempar Bom kearah aparat. Apalagi luas kamar tidak akan mungkin melakukan aksi perlawanan, lebih-lebih yang mau dilawan adalah aparat bersenjata lengkap dan mematikan.

Saya pun mencoba memastikan kondisi dan luas kamar yang menjadi TKP (Tempat Kejadian Perkara) melalui foto yang diambil oleh anggota yang ada dilokasi. Dari foto tersebut, Nampak bercak darah yang ada di dinding pintu kamar dan lantai didalam kamar. Demikian pula luas kamar yang memang tidak begitu bisa bergerak untuk melakukan perlawanan yang signifikan.

Pihak keluarga Almarhum Nurdin melalui Istrinya dan H. Kamaruddin menyatakan bahwa Pihak Keluarga sudah ikhlas dan merelakan kepergian Nurdin. Hanya saja, pihak Kepolisian mesti meluruskan bahwa faktanya Nurdin ditembak tidak dalam keadaan akan melawan, sedang melawan lebih-lebih akan melemparkan Bom kearah aparat yang datang. Disamping itu, pihak sangat berharap kepada Densus 88 untuk sesegera mungkin mengembalikan mengembalikan 3 HP dan uang 2 Juta Rupiah yang disita. Sebab 2 HP tersebut milik Tetangga yang kebetulan siang hari datang kerumah dan lupa setelah dicash. Uang 2 juta rupiah adalah miliknya Aminah, tetangga Almarhum yang dipinjamnya pagi hari itu untuk keperluan membeli obat samprot untuk tanaman pertanian yang dilakoninya selama ini.

Benar apa yang dikatakan beberapa orang yang memberi komentar atas penggrebekan, penangkapan dan menembak mati Nurdin, bahwa terduga Teroris itu sesungguhnya sudah ter-monitor dengan baik segala aktifitasnya dan akan digerakkan (digunakan) untuk sebuah kepentingan menutupi Isu Nasional.

Nurdin adalah anak dari H. Abdullah Seno, Desa O’o Kabupaten Dompu. Nurdin memiliki 9 saudara, 3 lelaki dan 6 perempuan. 2 orang anak H. Abdullah Seno, tewas dimoncong senjata Densus 88 dengan tuduhan teroris. Selain Nurdin yang tewas ditembak saat menjalankan Sholat Ashar kemarin (20/9), sebelumnya saudara kandung Nurdin, Ustadz Firdaus yang tewas di Ponpes Umar Bin Khatab (UBK) Sanolo kec Bolo Kabupaten Bima pertengahan tahun 2012 yang lalu. Disamping itu, 2 orang menantu H. Abdullah Seno juga ditembak dan ditahan dengan tuduhan teroris. Ustadz Yamin, ditembak di Poso. Sedangkan Ustadz Asran masih mendekap di LP Cipinang juga karena tuduhan sebagai teroris. Dapat diketahui bahwa Keluarga besar H. Abdullah Seno, memang sudah dipantau dan diawasi dengan ketat selama ini. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk ‘meng-eksekusi’ satu persatu, bergantung permintaan ‘Donatur terorisme’.

Sedangkan Penangkapan Terduga Teroris atas nama Gunawarman bersama istrinya, Cahya Laili di Dusun Pali Desa Punti Kecamatan Soromandi, sekitar pukul 16.30 Wita. Pria asal Kelurahan Sadia, Kota Bima, tersebut dibekuk saat melintas desa Punti. Sehari-hari Gunawarman dikenal sebagai pedagang ayam potong di Sadia. Dia sesekali juga mendatangi desa istrinya untuk menjenguk mertua serta keluarga si istri. Gunawarman pada saat itu baru pulang dari Kota Bima, mengantar mertuanya ke Rumah Sakit Muhammadiyah Kota Bima. Disamping itu, Terduga Teroris yang ikut dibekuk adalah Juwaid (26 thn), Suhail (32 thn) dan Gunardi (30 th). Juwaid dan Suhail dibekuk di Desa Punti Kec Soromandi saat sedang menjual Bakso, Gunardi ditangkap dirumahnya di desa Sai.

Penangkapan ini dilakukan hampir secara serentak dibeberapa titik. Densus 88 yang menangkap, semuanya dari Mabes Polri. Kapolresta Bima maupun Kapolres Dompu yang dimintai tanggapan terkait penangkapan ini tidak tahu menahu. Setelah ada peristiwa, baru mereka ketahui bahwa baru saja telah terjadi penangkapan terduga Teroris oleh Densus 88.

Berdasarkan data dan fakta yang didapat diatas, sesungguhya proses penangkapan dan penembakan yang baru saja di Duga sebagai Teroris seperti yang terjadi pada beberapa warga Bima diatas akan membuat citra Densus 88 semakin negative dan terkesan ‘mengajak’ untuk perang. Kasus menembak mati Terduga teroris, Nurdin di Desa O’o Kab Dompu akan melahirkan Spiral kekerasan lainnya yang terus berantai. Cara Densus 88 meng’eksekusi’ Nurdin adalah cara yang sangat keliru dan masyarakat bisa bergerak dan akan terus bergerak karena persoalan dendam yang semakin hari semakin terus ‘terpupuk dan terbangun’.

(DIRAMU DARI BERBAGAI SUMBER BERITA MEDIA CETAK LOKAL MAUPUN BERITA ONLINE)
================
Bima, 21 September 2014.
Pasca meninjau 2 TKP Penangkapan dan penembakan.

Anggota Densus 88 melakukan penyisiran di Desa O'o Kab Dompu 
Anggota Densus 88 melakukan penyisiran di Desa O'o Kab Dompu

Sabtu, 02 Agustus 2014

SURAT TERBUKA PRESIDEN SBY KEPADA PARA PEMIMPIN DUNIA TENTANG KRISIS KEMANUSIAAN DI GAZA

Ket: Surat Terbuka (Open Letter) Presiden SBY ini telah dimuat dalam versi bahasa Inggris di Harian Strait Times edisi 31 Juli 2014. 

Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono. Saya seorang muslim yang mencintai keadilan, dan yang sekaligus mencintai kedamaian, kemanusiaan dan demokrasi. Hampir sepuluh tahun ini saya memimpin Indonesia, dan beberapa bulan mendatang saya akan mengakhiri tugas saya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kemarin, setelah pagi harinya bersama rakyat Indonesia merayakan ldul Fitri dengan tenang dan damai, sebuah hari keagamaan yang agung bagi umat Islam, sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata saya. Melalui tayangan televisi nasional dan internasional, hampir setiap menit, saya menyaksikan jatuhnya korban jiwa di Gaza akibat kekerasan dan aksi-aksi militer yang tengah berkecamuk. Hampir semua yang tewas dan yang Iuka-Iuka adalah mereka yang tidak berdosa, tidak berdaya dan tidak bisa menyelamatkan diri dari desingan peluru dan bom-bom maut pencabut nyawa. Isak tangis ibu-ibu yang kehilangan putra-putrinya, serta jeritan anak-anak yang tiba-tiba kehilangan orang tuanya, sungguh menusuk relung hati saya yang paling dalam. Saya yakin, siapapun dan bangsa mana pun hampir pasti akan mengalami kesedihan dan kepiluan yang sama menyaksikan tragedi kemanusiaan yang tak terperikan itu. Sebagai seorang Presiden yang saat ini tengah memimpin sebuah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tentu saya tidak hanya bersedih dan marah. Hingga saat ini saya juga aktif melaksanakan diplomasi beserta para menteri dan diplomat Indonesia, termasuk dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, tetapi situasi yang ada di Gaza kenyataannya bertambah buruk. Oleh karena itu, dari Jakarta, saya harus meneriakkan seruan moral kepada seluruh bangsa di dunia, utamanya para pemimpin dunia, dan utamanya lagi kepada pemimpin Israel dan Hamas, untuk segera menghentikan kekerasan dan tragedi di kawasan itu. Dengan seruan ini saya berharap para pemimpin dunia segera mengambil tanggung jawab bersama dan benar-benar bisa melakukan atau "memaksakan" gencatan senjata dan mengakhiri operasi-operasi militer yang nampaknya makin tidak pandang bulu. Gencatan senjata itu mesti dilaksanakan sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Dengan gencatan senjata, berarti serangan Israel melalui udara, laut dan darat harus segera dihentikan. Demikian pula tembakan-tembakan roket dari pihak Hamas mesti diakhiri, agar aksi balas membalas atau siklus kekerasan tidak terus berlanjut. Tindakan para pemimpin politik dan militer untuk melanjutkan operasi-operasi militer saat ini hanya akan makin menambah jatuhnya korban jiwa, termasuk anak-anak, kaum perempuan dan golongan lanjut usia. lni semua sudah menabrak hukum, moral dan etika perang, yang harus dijunjung tinggi di sebuah dunia yang beradab. Meskipun saya seorang muslim, saya tidak melihat masalah ini dari segi agama. Saya tidak mengaitkan pikiran dan seruan saya ini dengan Islam, Yahudi, Kristen, Katolik dan agama atau keyakinan apa pun. lsu yang kita hadapi ini adalah isu tentang kemanusiaan, moralitas, hukum dan etika perang, serta tindakan dari pihak mana pun yang telah melebihi kepatutannya. Tragedi kemanusiaan dan penderitaan manusia yang tak terperikan ini juga berkaitan dengan rasa tanggung jawab dari para pemimpin, yang baik langsung maupun tidak langsung telah membuat tragedi kemanusiaan ini terus berlangsung. Terus terang, Indonesia secara konsisten dan tegas mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Dunia harus benar-benar memberikan kepastian bagi terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, serta diakui oleh masyarakat dunia. Juga Palestina merdeka yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel, dan juga dengan negara-negara tetangganya. Konsep "dua negara dalam kawasan yang damai" adalah konsep yang saya pandang dan yakini sebagai konsep yang realistis dan bisa diwujudkan. Dengan tontonan dan contoh buruk tentang konflik, perang dan kekerasan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, atau juga di tahun-tahun sebelumnya, maka anak-anak bangsa mana pun, termasuk anak-anak muda kita, bagai diajarkan ya begitulah kehidupan di dunia yang mesti dijalankan. Padahal, selama hampir sepuluh tahun ini saya mengajak bangsa Indonesia, termasuk umat Islam Indonesia, untuk senantiasa mencintai perdamaian, persaudaraan, toleransi dan kerukunan. Saya juga berjuang dengan gigih untuk memerangi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di bumi Indonesia. Saya juga aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam forum dialog antar agama dan peradabannya baik di Indonesia maupun di berbagai forum internasional. Saya juga memelopori dan memimpin penyelesaian berbagai konflik di Indonesia secara damai dan demokratis, termasuk konflik di Aceh dan Papua, konflik komunal antar dan intra agama, serta konflik kepentingan dengan negara lain termasuk sengketa perbatasan dengan negara-negara tetangga. Saya juga berupaya sekuat tenaga untuk menjaga dan mempertahankan garis Islam Indonesia yang moderat, rukun dan toleran, di tengah pengaruh global yang sering menyebarluaskan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Saya menyadari bahwa semua itu tidak bisa "to be taken for granted", melainkan harus terus kita jaga dan upayakan perwujudannya. Pendek kata saya berupaya sekuat tenaga untuk mengajak bangsa Indonesia agar mencintai perdamaian, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan, serta toleransi dan bisa membangun persahabatan dan kemitraan dengan bangsa lain. ltulah konon katanya nilai-nilai universal yang diajarkan oleh orang-orang bijak di dunia. Apa yang terjadi di Gaza dan tempat lain di Timur Tengah atau Afrika Utara dewasa ini, dikaitkan dengan misi dan tantangan yang saya hadapi di Indonesia, bisa dibayangkan betapa beratnya saya mengemban tugas-tugas yang mulia itu. Apa yang harus saya katakan kepada ratusan juta rakyat Indonesia? Bagaimana tidak makin muncul kelompok-kelompok yang radikal di negara kami dan bahkan juga di banyak negara, karena mereka merasa kalah dan dipermalukan, sehingga harus memilih dan menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam memperjuangkan keadilan yang diyakininya. Saya yakin tantangan berat yang saya hadapi ini juga dihadapi oleh banyak pemimpin lain di dunia, termasuk para pemimpin politik, pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi kemanusiaan dan para pemimpin agama. Saya khawatir, karena keacuhan dan kurangnya tanggung jawab kita semua, maka generasi-generasi yang terlahir saat ini kelak akan menjadi generasi yang keras, penuh dendam dan kebencian. Bisa-bisa pula menjadi generasi yang haus darah dan peperangan. Kalau ini yang terlahir dan terjadi di abad ke-21 ini, maka terciptanya perdamaian dan keamanan internasional yang menjadi semangat dan jiwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya akan menjadi sesuatu yang sangat ilusif. Dengan itu semua, pandangan dan usulan konkrit saya sebagai pemimpin Indonesia adalah agar dalam hitungan hari, kalau perlu hitungan jam, para penentu perdamaian dan keamanan dunia, yaitu Dewan Keamanan PBB, utamanya para pemegang Hak Veto, dan negara-negara kunci di kawasan Timur Tengah, segera duduk bersama dan benar-benar bisa memaksakan dilakukannya gencatan senjata. Semangatnya adalah "peace making". Setelah gencatan senjata dapat diwujudkan, segera diintensifkan bantuan kemanusiaan dan proses politik yang lebih inklusif dan konklusif. Jangan sampai setelah peperangan yang dengan susah payah bisa diakhiri, proses politik itu di lupakan kembali. Jangan mengulangi kesalahan masa lalu. Dengarkan jeritan rakyat Palestina, utamanya yang tinggal di jalur Gaza yang sudah cukup menderita akibat blokade yang diberlakukan selama ini, serta pandangan Fatah dan Hamas yang semoga makin menyatu, realistis dan konstruktif. Dengarkan pula harapan rakyat Israel agar tidak dihantui oleh rasa takut sepanjang masa setelah tetangganya insya Allah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Konflik kedua bangsa itu akan berakhir, menurut hemat saya, jika kemerdekaan Palestina telah benar-benar dicapai dan kemudian Israel tidak merasa terancam olehnya. Tentunya Israel yang semakin memiliki hati dan semangat persahabatan, dan bukan yang selalu bersikap superior karena merasa negaranya jauh lebih kuat. Negara lain juga harus peduli, tergerak dan ikut berkontribusi bagi terwujudnya cita-cita mulia ini. Indonesia menawarkan diri dan selalu siap untuk dilibatkan dalam proses pengakhiran tragedi kemanusiaan yang penting ini. lnilah saudara-saudaraku bangsa sedunia, peluang sejarah yang terbuka. Jangan kita sia-siakan, agar kita tidak dikutuk dan disalahkan oleh generasi mendatang oleh anak cucu kita. Selamat ldul Fitri 1435 Hijriyah kepada kaum muslimin di Palestina semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya. Juga salam damai dan persahabatan untuk semua umat beragama dan bangsa-bangsa sedunia. 

Jakarta, 29 Juli 2014 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

**** Surat ini bisa juga di lihat dalam Fan Page resmi Bapak SBY : https://www.facebook.com/SBYudhoyono/posts/746658055400138

Senin, 28 Juli 2014

PERGESERAN KULTUR INTELEKTUAL

Sebagai basis transformasi sosial keberadaan mahasiswa menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni Negara. Lembaran sejarah bangsa Indonesia telah mencatat peran Mahasiswa dalam berbagi perubahan yang signifikan di negeri ini. Sejak berdirinya organisasi modern pertama Budi Utomo mei 1908 yang kemudian berpuncak pada sumpah pemuda 1928, peristiwa Rengas Dengklok 1945, kejatuhan rezim Orde Lama (Soekarno) 1965, gerakan 1975, dan tumbangnya rezim Orde Baru pasca reformasi serta masih banyak lagi peristiwa – peristiwa penting lainya yang selalu di motori oleh kaum muda yang mayoritasnya adalah generasi ilmiah (Mahasiswa). perubahan – perubahan itu terjadi bukanlah suatu kebetulan atau keniscayaan yang berjalan karena keberadaan mahasiswa tanpa gerakan–gerakan yang sitemik. Namun perubahan tercapai karena keberadaan mahasiswa yang tercerahkan hingga sadar akan sebuah tanggung jawab kemudian terilhami sebuah misi suci (mission sacre) untuk memperjuangkan kondisi bangsa menuju kearah yang lebih baik. Jika kita menelusuri perubahan–perubahan mendasar diseluruh pelosok daerah Se-Nusantara, tak bisa dipungkiri eksistensi mahasiswa sebagai realitas sosial telah menjadi pilar dari kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya.
Menelaah kembali nilai identitas mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah , mengandung berbagai esensi yang sungguh berat untuk di emban. Identitas merupakan Karakter yang melekat pada individu yang membedakannya dengan yang lain. Secara sadar kita memahami bahwa mahasiswa adalah sebuah identitas sehingga manifestasi dari nilai identitas itu harus terjewantahkan dalam realitas sosial melalui karakteristik atau ciri–ciri mahasiswa sebagai masyarakat yang berfikir. Sehingga fungsi mahasiswa sebagai Agent of change, Agent of Control, dan Agent of sosial menjadi energi yang terus menuai makna dalam melanjutkan agenda reformasi dengan berlandaskan pada kekuatan moral (moral of force).
Menyikapi laju eksistensi gerakan mahasiswa akhir dekade ini, mengalami pergeseran kultur yang sangat memprihatinkan. Dimana mayoritas mahasiswa hanya sebatas populasi yang bergelut dalam komunitas aslinya (kampus) sebagai penggali ilmu semata. Posisi mahasiswa dalam realitas sosial sebagai masyarakat menegah (Middle class) yang beroposisi dengan rakyat (low class) serta senantiasa mengontrol dan menghakimi kebijakan penguasa (high class) tercampakkan hingga esensi identitas kemahasiswaan pun turut terseret tanpa makna. Ephoria aptisme semakin terjangkit dalam benak dan pola fikir, budaya – budaya hedonisme menjadi kultur yang di minati. Sedangkan tujuan mahasiswa menjadi sebatas pemahaman yang bersifat seremonial belaka.
Mendeskripsikan pergeseran kultur budaya dalam komunitas intelektual (mahasiswa), Alto Makmuralto dalam bukunya “Dalam Diam Kita Tertindas” menulis;
“Melihat perkembangan gerakan dalam beberapa tahun terakhir pasca reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami kelesuan yang sangat signifikan yang mana harus diakui bahwa gerakan mahasiswa semakin lemah dan seakan tak mampu berbuat apa-apa dan bahkan boleh dikata kebingungan dalam melakukan penentangan terhadap berbagai kedzaliman secara struktur dan sitematik yang sedang terjadi di depan mata kita. hal ini dapat dilihat dari pergeseran kultur mahasiswa dari tradisi-tradisi intelektual, seperti budaya baca, diskusi dan lain–lain, menjadi tradisi Gaya hidup hedonistik dalam dekapan kebudayaan pop, yang telah begitu membudaya di kampus-kampus. Hal ini disebabkan oleh semakin gencarnya serangan-serangan budaya hedonoisme (Food, Fasion and Fun) yang telah marak dikampus-kampus yang menyebabkan kampus sulit dibedakan dengan Mall. Selain itu system dan aturan akedimik yang seakan–akan tidak memberikan kesempatan dan pilihan lain diluar akademik membuat mahasiswa tidak tertarik untuk baca buku, diskusi, kajian, Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi dan menyebabkan sebagian besar mahasiswa memiliki paradigma dan cara berfikir yang praktis dan pragmatis serta acuh tak acuh dalam memandang realitas dan menjadikan mahasiswa enggan untuk berpartisipasi dan mengambil peran penting dalam dunia gerakan ”
Berbicara gerakan dalam prespektif kemahasiswaan memiliki cakupan yang luas. Hal yang paling signifikan adalah gerakan pembenahan potensi diri agar menyadari akan identitas kemahasiswaan itu sendiri. Secara kodrati tiap–tiap individu memiliki potensi yang berbeda–beda. Tentunya dalam hal ini budaya–budaya penyatuan prespektif (diskusi) untuk memperkuat analisis dalam menyikapi realitas sangat di butuhkan. Demikian halnya dengan penguatan konsep (ilmu pengetahuan), kebiasaan untuk memamah berbagai macam referensi dan literature merupakan hal yang tak kalah pentingnya. Sebab kesempurnaan kecerdasan tercapai dari jutaan suplemen (rangsangan) dari potensi–potensi di luar diri kita dan secara ideologispun mahasiswa memiliki prespektif yang sama. Sehingga dalam membangun gerakan kemahasiswaan dalam menjalankan misi suci berdasarkan tujuan mahasiswa sebagai tonggak kemajuan bangsa tidak minim akan metode dan starategi . Tanpa seharusnya menjadi sperti di singgung oleh Drs. Abdul Wahid dkk. dalam bukunya “Melawan Bandit–Bandit Intelektual” menulis ; “ kaum terdidik itu (mahasiswa) sedang terpesona dalam romantisme budaya dan kepentingan faksi–faksi yang di bangunnya, yang dianggap dan di kalkulasikan bisa memuaskan gelora ambisinya. Mereka tidak peduli apakah bangsa ini akan menuai kehidupan damai dan sejahtera ataukah tidak. Dalam diri dan kelompoknya, kepentingan yang di usung dan di bela hingga meneteskan darah adalah kepentingan yang bercorak instan dan merugikan”.
Kultur gerakan kemahasiswaan dewasa ini mengalami kemerosotan dan impotensitas. Metode dan startegi gerakan yang relevan dengan kondisi yang ada sama sekali raib tak berwujud. Sehingga paradigma untuk membangun gerakan selalu terarah pada demonstrasi yang semestinya menjadi pola terakhir setelah kehabisan berbagai metode dan strategi.
Lalu Apa ?
Siapakah yang akan di kambing hitamkan dalam dinamika krisis multidimensional dalam ruang komunitas ilmiah ???
Kampus merupakan rahim budaya intelektual. Mahasiswa dan perguruan tinggi adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan ibarat dua sisi mata uang. Pergruan tinggi merupakan sumber kader intelektual. Sistim dalam lembaga perguruan tinggi sangat berperan sebagai kekuatan organis dalam upaya menciptakan generasi ilmiah yang militansi. Menyikapi dinamika di atas haruskah kita menyalahkan Perguruan Tinggi? sebab keniscayaan berdengung sesuatu yang lahir dari suatu sistim yang ada akan terlahir sama sepeti sistimnya. kemerosotan yang sangat fundamental dalam diri generasi ilmiah pada masa sekarang ini adalah menjadi makhluk-mahluk berakal yang berjubahkan peradaban modernitas (budak peradaban).
Penulis berharap berbagai interpretasi terhadap pergeseran kultur dalam tubuh generasi ilmiah (Mahasiswa) dan kamuflase Pendidikan Tinggi saat ini, tanpa harus saling mencari kambing hitam. Jika kader intelektual (mahasiswa) yang notabenenya sebagai generasi ilmiah dan pilar bangsa yang di produksi oleh Perguruan Tinggi harus berjubahkan peradaban modernitas hari ini tak semestinya terlena dalam romantisme euphoria apatisme. Sebab, “pendidikan bukan untuk lahirkan budak, budak tidak perlu lahir dari dunia pendidikan, dan pendidikan bukan cermin masyarakat budak, kecuali budak memang jadi kebutuhan, Pertuanan bikin poros sesembahan, di balik dinding sekolahan”. ( N. Hafidz, 2004).
Di butuhkan rekonstruksi paradikma berfikir ilmiah dari berbagi kalangan Tanpa harus mengekang mimbar bebas akademik serta mempecundangi generasi. wallahualam

***(Untuk para pengembara intelektual Bumi Patuh Karya)

penulis adalah mahasiswa STKIP Hamzanwadi 

KAMUFLASE PENDIDIKAN TINGGI DAN WAJAH BURUK KONSPIRASI POLITIK STKIP HAMZANWADI SELONG

Oleh : Alif Milla Ate


Sejak awal berdirinya pada tanggal 01 januari 1978 Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi Selong memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sasak. Berdasarkan tujuan dan misi suci (mission sacre) Almagfurullah Maulanasyaikh TGKH Zainuddin Abdul Majid sebagai pendiri Perguruan Tinggi tersebut Yakni untuk memperjuangkan ketertinggalan dan keterbelakangan masyarakat Sasak. Jadi jelaslah tujuan pendirian kampus tersebut adalah untuk misi keumatan. Di sisi lain keberadaan sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan(STKIP) Hamzanwadi Selong memiliki motto yang sangat ideal dalam menciptakan basis transformasi sosial. Sebagaimana motto dari kampus biru tersebut adalah “Menjadi Perguruan Tinggi yang unggul dalam penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berpredikat “sarjana santri””. STKIP Hamzanwadi Selong merupakan salah satu dari sekian banyak Pendidikan Tinggi yang ada di Lombok Timur sebagai manifestasi dari kemajuan daerah kabupaten Lombok Timur terutama ormas Nahdatul Wathan(NW) dalam bidang pendidikan.
Kefatalan dalam penyelenggaraan pendidikan Tinggi oleh Lembaga STKIP Hamzanwadi selong menempatkan kemegahan dan perkembangan kampus Biru tersebut menjadi tidak professional dan produktif dalam pelaksanaanya. Manejemen Perguruan Tinggi yang kebablasan menjadikan kampus STKIP Hamzanwadi sebagai lahan empuk kapitalisme pendidikan. Sistim yang berkonspirasi dengan rapi semakin memperkuat keberadaan kampus tersebut menjadi lahan industri dan komersialisasi yang sangat kondusif. Hal ini jelas sangat nampak pada beberapa sisi kebijakan kampus yang sangat merugikan Mahasiswa. Mulai dari pengelolaan keuangannya yang tidak efisien, efektif dan akuntabel, yang berorientasi pada hasil yang profesional, proporsional, serta transparansi dalam pengelolaannya, membebani sanksi denda pada Mahasiswa yang terlambat melakukan registrasi, serta masih banyak lagi pungutan-pungutan liar yang tidak disiplin dan cacat secara administrasi. Selain itu, sarana dan prasarana kampus yang tidak memadai seperti, perpustakaan kampus yang hanya dipenuhi dengan skripi-skripsi para Alumni, ruang-ruang leb yang tidak merata pada masing-masing program Studi, serta berbagai sarana-dan prasarana lainya yang menunjang trasformatif akademik yang belum terwujud. Hingga pada persoalan terkecil sekalipun seperti toilet/WC banyak yang tidak dihiraukan dan difungsikan.
Untuk menjaga kelancaran dan keamanan sistim yang tengah ditegakkan dalam perguruan tinggi tersebut, lembaga STKIP Hamzanwadi menerapkan kebijakan untuk mengekang mimbar bebas akademik. Bagi para Mahasiswa yang di anggap membangkang terhadap sistim yang menindas di intimidasi dan di ancam dengan alasan Drop Out(DO). Mahasiswa yang kritis terancam rendah nilai mata kuliah oleh dosen-dosen mereka.Selain itu banyak modus-modus ancaman lainya yang diterapkan untuk melindungi konspirasi tersebut.
Demikianlah kondisi STKIP Hamzanwadi Selong yang bisa penulis deskripsikan. Banyak indikasi penindasan dan pemerasan mahasiswa yang menguntungkan oknum-oknum Lembaga STKIP Hamzanwadi yang tidak bisa terungkap karena kendala sistim. Sebagai Mahasiswa tidak semestinya terlena dan terus diam dalam menikmati persoalan tersebut. Butuh rekonstruksi paradigma berfikir untuk merubah sistim di kampus kita yang tercinta ini tanpa harus terdogmatis dengan berbagai modus ancaman yang otoriter dan tidak manusiawi dari Lembaga. Meski dalam mendukung sistim lembaga ada dari sebagian mahasiswa yang turut berkonspirasi dengan sistim sebagai penghianat untuk mempecundangi sesama. Tanpa disadari meski menguntungkan bagi mereka(Mahasiswa) yang berkhianat atau bisa dikatakan bagian dari sitim bahwa kesuksesan mereka dalam mendukung sistim tersebut merupakan hasil dari keringat dan jerih payah kita dan orang tua kita yang tengah mereka tindas. Kalau boleh penulis simpulkan bahwa masalah kita bersama adalah menyingkirkan para penghianat(komporador) di antara kalangan Mahasiswa lalu kemudian bersama-sama menjalin persatuan dan kesatuan untuk melakukan perubahan. Meski banyak konsekuensi yang kita hadapi namun pastikanlah bahwa gerakan yang dibangun atas dasar kebenaran walaupun pahit adalah sebuah amanah yang mulia.
Hal lain yang sangat menampakkan kebobrokan dalam penyelenggaraan Pendidikan Tinggi adalah dimana Kampus dijadikan lahan kepentingan politik oknum-oknum pemilik STKIP Hamzanwadi. Wabah Perpolitikan praktis yang tidak semestinya terjangkit dalam Perguruan Tinggi, dengan mudah masuk secara terbuka dan legowo dalam mempecundangi generasi di kampus STKIP Hamzanwadi. Merupakan kefatalan jika kampus di jadikan basis politik atau terindikasi sebagai lahan politik yang di garap oleh aktor – aktor suatu partai politik. otonomi Pergruan Tinggi akan jelas tercoreng di mata publik. Begitupun juga dengan identitas Mahasiswa akan turut terseret dalam polemik yang meruntuhkan nilai idealisme. Kampus merupakan rahim budaya intelektual sebagai lahan produksi basis transformasi sosial. Sebagai ruang komunitas intelektual yang kerap kali melahirkan dan menciptakan generasi pencerah dan cendekiawan untuk menunjang perubahan sosial. kampus juga merupakan sebuah wilayah steril yang anti dari berbagi macam simbolitas sebagai manifestasi dari otonomi Perguruan Tinggi. Sehingga Mahasiswa sebagai masyarakat menengah yang di tuntut menjunjung tinggi rasionalitas, kritis, sistemik, analisis dan obyektif serta berwawasan luas dapat belajar dengan bebas tanpa sebuah doktrin dan alasan dependensi atau keterikatan emosional dalam bentuk apapun. Mahasiswa yang bebas merdeka dan berada pada posisi penetrasi atau masyarakat menengah ( middle class ) yang beroposisi dengan kaum proletar ( low class ) dan senantiasa mengontrol kebijakan pemerintah ( high class ) harus mempertahankan eksistensinya yang independen. Agar dengan bebas megontrol dan merubah realitas sosial yang bersenjangan dengan ideologi kemahasiswaan ( idealisme ).
Dalam hal ini Mahasiswa seakan kehilangan taring untuk mempertahankan dan membela identitasnya. Sebab kecenderungan yang nampak adalah banyak diantara kalangan Mahasiswa menjual idealismenya untuk turut serta bereforia dalam pesta politik praktis tersebut. Salah satu bukti keterlibatan oknum Mahasiswa dalam pesta kepentingan politik tersebut adalah moment seminar nasional dalam rangka memperingati HARPENAS pada tgl 13 mei 2012 0leh Badan Eksekutif Mahasiswa STKIP HAMZANWADI Selong, teridikasi di jadikan moment untuk menyuarakan antek – antek hubungan emosional dengan partai politik tersebut. Sebab bertepatan dengan hari itu bendera Partai Demokrat berkibar di kampus tersebut. Hal ini melahirkan berbagai indikasi saat atribut – atribut partai Demokrat dengan leluasa berkeliaran di wilayah kampus. Berbagai polemik lahir dari pada kalangan intelektual dan cendekiawan yang mengindikasikan Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) STKIP HAMZANWADI-SELONG terkesan mendukung dan di dukung di antara pesta pembenahan diri mahasiswa dan teater politik praktis.
Meminjam salah satu kritikan untk Mahasiswa yang demikian dalam buku Melawan Bandit – Bandit Intelektual yang di tulis oleh Drs. Abdul wahid DKK menulis :
“ Dewasa ini ada kecenderungan kuat di kalangan teman – teman mahasiswa sedang mengidap penyakit deskralisasi moral perjuangan. Perjuangan tidak lagi atau kurang di tempatkan dalam ranah aktual sebagai jalan menuju pembaharuan dan pencerahan. Moral perjuangan seperti benar – benar sedang dikalahkan kekuatan besar, terbukti apa yang tampil ke permukaan sebagai produk gerakan yang terorganisir ternyata belum tampak .
Mereka barangkali disibukkan oleh berbagai model perubahan gaya pertemanan, jaringan organisasi kedaerahan hingga ke revolusi gaya hidup yang tidak sepenuhnya menempatkan agenda reformasi sebagai tugas suci dan fundamentalnya. Mereka sedang larut dalam budaya dan pergulatan politik yang menurut penilaiannya lebih memastikan, memuaskan dan menyenangkan. ”
Perguruan tinggi sebagai sumber kader intelektual, haruslah dengan tegas melirik dan menyikapi persoalan tersebut. lembaga STKIP HAMZANWADI sebagai panutan dalam meciptakan generasi yang menjunjung tinggi moralitas bangsa serta melanjutkan tujuan reformasi tidak seharusnya turut bereforia dengan hal ini. Untuk mewujudkan tujuan Tri Dharma Pendidikan Tinggi di butuhkan upaya perbaikan konsep dalam tubuh Lembaga Pengelola STKIP Hamzanwadi. Mahasiswa tidak seharusnya terbungkam dengan sistim yang kemudian meruntuhkan identitas kemahasiswaan itu sendiri. Demikian juga dengan aktor – aktor partai demokrat mestinya harus pandai menempatkan diri sebagai partai politik tanpa seharusnya mempecundangi generasi. Apalagi, dalam salah satu konsiderasi Undang – undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang partai politik di sebutkan, bahwah partai politik merupakan salah satu wujud partisipasi masyarakat yang penting dalam mengembangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan, kesetaraan, kebersamaan, dan kejujuran.
Marilah melangkah pada koridor kebenaran masing - masing dengan pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya tanpa harus saling mengelabui. Jangan jadikan kebiasaan itu benar tapi jadikan kebenaran sebagai sebuah kebiasaan. Semoga STKIP HAMZANWADI Selong menjadi perguruan Tinggi yang pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya.


Penulis adalah Mahasiswa STKIP Hamzanwadi