Oleh : Alif Babuju
“Karena
manusia itu menurut fitrahnya baik, selalu mempunyai potensi untuk
benar, sehingga ia berhak mengutarakan pendapatnya secara bebas.” (Nurcholish Madjid)
Sejak bergabung di Komunitas Babuju pada tahun 2011 lalu, hingga kini
masih terekam jelas dalam ingatan penulis tentang topik diskusi yang
kerapkali dibangun bersama rekan-rekan Civitas Komunitas Babuju.
Sebagai Sebuah Komunitas Minoritas yang bergerak dibidang Sosial
Kemanusiaan, Sosial Pendidikan dan Sosial Kebudayaan, seringkali
mengkaji tentang kondisi sosial pendidikan di Dana Mbojo(Bima). Topik
diskusi yang sering dibangun adalah masalah “Kuliah”.
Selain mendiskusikan hal itu diantara anggota Komunitas untuk
merekonstruksi paradigma berfikir, topik ini kerap digunakan sebagai
formula oleh para pengader dari kalangan Komunitas Babuju untuk
menggugah kesadaran generasi saat penerimaan anggota baru.
Bermodalkan landasan literal seadanya dan analisis sosial yang dangkal,
topik ini tetap hangat dan kadang menjadi pendekatan paling ampuh dalam
menggugah kesadaran generasi serta anggota komunitas untuk “Iu Wekki”(Tau
Diri). Topik tersebut bagi diri pribadi penulis sangat berdampak
positif sebagai motivasi diri untuk mencari tahu bagaimana arti dan
makna kuliah sesungguhnya. Hal ini pula yang mendorong penulis untuk
menyusun tulisan ini dalam menuangkan uneg-uneg hasil analisa pribadi
tentang kuliah dalam pandangan sosial Bima serta bagaimana menyikapi
hal itu.
Dalam tulisan ini, penulis
mengkhususkan pembahasan pada analisis sosial pendidikan Dana
Mbojo(Bima) dalam memaknai kuliah itu sendiri, sebagai komponen
eksternal yang mengkonstruksi generasi muda(Mahasiswa) menjadi pribadi
yang keropos dan dilema. Penulis tidak mempersoalkan komponen
Internal(dalam diri) seperti, kemauan, semangat, kerja keras, disiplin
dan lain sebagainya. Karena komponen Eksternal(luar diri) cukup
berpengaruh dalam membentuk individu.
Dalam
melanjutkan study ke bangku kuliah setidaknya ada dua faktor sebagai
komponen eksternal di Dana Mbojo(Bima) yang menjadi belenggu atas
kesadaran Mahasiswa Bima. Belenggu-belenggu inilah yang sangat
berpengaruh terhadap mentalitas dan sikap Mahasiswa dalam menimbah ilmu
di lingkungan kampus(Kuliah). Dua faktor tersebut adalah tuntutan
keluarga dan tuntutan sosial. Kedua faktor inilah yang sangat
berpengaruh mem-virusi pola pikir Mahasiswa sehingga mendarah daging
menjadi sikap dan karakter yang apatis, pragmatis dan hedonis. Penulis
melihatnya sebagai “belenggu” berdasarkan fenomena sosial kekinian di Bima yang kian tidak mencintai kwalitas.
Tuntutan keluarga yang menjadi belenggu bagi seorang anak ini dapat
dilihat dari tujuan orangtua mengkuliahkan anak.. Hal ini bisa dilacak
dalam beberapa penggalan kalimat berikut ini dengan nada perintah ; “Lao Kuliah anaee loa ku mandadi Dou atau Lao kuliah anaee Loa ku Mantau ndi rawi”. Mungkin saja kalimat perintah ini benar pada standar pemahaman orangtua yang kebanyakan dari Low Class(Masyarakat
Awam). Tapi, bagaimana dengan penafsiran generasi atau seorang anak ?
diperparah oleh ketergantungan nasib yang terlalu dalam menganggap
satu-satunya tolak ukur kesuksesan adalah menjadi seorang Pegawai Negeri
Sipil(PNS) dan persaingan sosial yang tidak sehat, hingga terkadang
membuat orantua rela melakukan apa saja untuk membayar mahal profesi
tersebut. Hal ini tentunya meng-konstruksi mentalitas generasi menjadi
patah semangat dalam menuntut Ilmu. Ini menjadi sebuah alasan bagi
mereka bahwa kuliah hanya karena memenuhi tuntutan orangtua. Tentu saja
jika berbicara kesuksesan sebagaimana dimaksud adalah hal yang sangat
muda dewasa ini. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan uang sebagai
penentu. Wajar saja generasi/Mahasiswa bersikap destruktif atau
mementingkan hal-hal yang bersifat sementara. Toh akhirnya juga bukan
kwalitas yang menentukan. Bukankah mentalitas birokrasi kita juga
membuka ruang ? Tapi, tuntutan keluarga tersebut masih bisa ditunda atau
dalam bahasa Bimanya( Loa ndi Kapea Kanai).
Selanjutnya faktor yang lebih parah adalah penyakit sosial yang satu
ini(Tuntutan Sosial). Inilah belenggu yang ampuh membuat generasi
dilematis dalam menentukan masa depannya. Pencarian diri generasi
sesungguhnya sangat terpengaruh oleh belenggu ini. Jika tuntutan
keluarga masih bisa kita tunda, tuntutan yang satu ini sangat sulit dan
bahkan tidak bisa ditunda(Tiloa ndi Kapea Kanai)
bagi generasi yang memang kebingungan/lupa diri atau putus asa. Marilah
sejenak memperhatikan fenomena sosial Dana Mbojo(Bima) hari ini yang
menempatkan strata sosial lebih dominan ditentukan oleh harta dan jabatan. Setinggi
apapun ilmu anda, selihai apapun anda berbicara dan setinggi apapun
titel anda, tidak akan mendapat ruang di Tanah Bima. Pada skala yang
lebih luas, jabatan PNS selalu mendapat tempat istimewa dilingkungan
sosial Bima, sekalipun tidak berkwlitas dan didapatkan dari hasil yang
tidak etis (Kasimpa Ma Sampu).
Kurang lebihnya demikianlah sekilas tentang penyakit sosial yang
menjangkiti kebanyakan masyarakat Bima hari ini. Penulis khawatir
fenomena inilah yang menjadi akar dari semua persoalan yang tengah
dialami generasi(Mahasiswa) Bima. Menyikapi fenomena yang makin agresif
tersebut, sudah saatnya Mahasiswa sebagai masyarakat menengah(Midle Class) yang tentunya memiliki standar pemahaman lebih dari masyarakat dan orangtua(Low Class), untuk melangkah keluar (Ekstatis) dari belenggu tersebut.
Kata ekstatis itu sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani ekstase yang
berarti melangkah keluar atau pergi melampui diri mengatasi pengalaman
normal. Dalam hal ini seorang mahasiswa harus mampu melangkah keluar
dari belenggu tuntutan keluarga dan sosial yang melemahkan pembentukan
dirinya sebagaimana penjelasan diatas. Ia harus mampu menemukan jalan
baru untuk mengespresikan dirinya sebagai pejuang intelektual. Mahasiswa
harus mampu meleburkan diri dalam proses perkuliahan sebagaimana
mestinya. Kuliah harus merupakan pilihan sadar yang harus Ia jalani
dengan proses pembenahan potensi diri secara maksimal. Proses yang
dimaksud tentunya dengan aktif dalam berbagai aktivitas yang menjamin
dalam pembenahan potensi diri. Ia harus mampu menciptakan ruang atau
mencari ruang untuk menempa dan mengaktualisasikan potensinya.
Untuk bersikap ekstatis secara
teori adalah hal yang sangat mudah. Namun pada ranah praktis mungkin
sulit untuk di aktualisasikan. Apalagi bagi mahasiswa Bima yang telah
terlanjur dikonstruksi oleh fenomena sosial yang ada. Oleh karena itu
dibutuhkan kesadaran penuh dalam hal ini. Bersikap ekstatis meski
dibiasakan dengan aktivitas rutin dan dsiplin yang sengaja dibangun
secara sadar. Kultur intelektual yang telah mengalami pergeseran akibat
fenomena diatas mesti dihidupkan kembali. Kesadaran membaca,
berdiskusi, berkarya, dan berbagi aktivitas yang lebih bermanfaat lainya
merupakan manifesto sikap ekstatis. Dan ini mesti dilakukan dengan
disiplin dan pelatihan berkala yang sengaja dibangun. Dengan sendirinya,
potensi diri akan ditemukan dalam proses tersebut. Dalam
mengejewantahkan sikap ekstatis, seorang mahasiswa harus menyatu dalam
proses itu secara sungguh-sunguh sehingga mampu mengespresikannya dalam
bentuk karya.
Dalam melakukan
hal diatas tentunya bukan hal yang muda. Sikap ini akan dihadapkan
dengan berbagai tantangan yang cukup berat. Tantangan yang tidak bisa
dipungkiri adalah pengasingan dan cercaan oleh lingkungan sosial. Selain
itu, harus peka terhadap rasa malu keluarga akibat persaingan sosial
yang tidak sehat. Pendidkan adalah proses yang panjang. Dengan fenomena
sosial Bima sebagaimana dimaksud diatas, orang-orang yang tengah
mencari diri akan dianggap gila. Oleh karena demikian dibutuhkan perisai
diri sebagai benteng pertahanan dari berbagai konsekuensi tersebut.
Untuk memperkuat perisai diri tentunya dengan menyadari kekurangan yang
ada dan bangkit untuk membenahinya. Disisi lain dibutuhkan kemauan dan
prisip diri yang kuat.
___ Bacaan Dou Mbojo___