Senin, 28 Juli 2014

EKSTATIS, MELEPAS BELENGGU PEMBODOHAN (Kuliah Antara Tuntutan Keluarga Dan Tuntutan Sosial Dana Mbojo)

Oleh : Alif Babuju

“Karena manusia itu menurut fitrahnya baik, selalu mempunyai potensi untuk benar, sehingga ia berhak mengutarakan pendapatnya secara bebas.” (Nurcholish Madjid)

            Sejak bergabung di Komunitas Babuju pada tahun 2011 lalu, hingga kini masih terekam jelas dalam ingatan penulis tentang topik diskusi yang kerapkali dibangun  bersama  rekan-rekan Civitas Komunitas Babuju. Sebagai  Sebuah Komunitas Minoritas yang bergerak dibidang Sosial Kemanusiaan, Sosial Pendidikan dan Sosial Kebudayaan, seringkali mengkaji tentang kondisi sosial pendidikan di Dana Mbojo(Bima).  Topik diskusi yang sering dibangun adalah masalah Kuliah. Selain mendiskusikan hal itu diantara anggota Komunitas untuk merekonstruksi paradigma berfikir, topik ini kerap digunakan sebagai  formula oleh para pengader dari kalangan Komunitas Babuju untuk menggugah kesadaran generasi saat penerimaan anggota baru.

            Bermodalkan landasan literal seadanya dan analisis sosial yang dangkal, topik ini tetap hangat dan kadang menjadi pendekatan paling ampuh dalam menggugah kesadaran generasi serta anggota komunitas untuk “Iu Wekki”(Tau Diri). Topik tersebut bagi diri pribadi penulis sangat berdampak positif sebagai motivasi diri untuk mencari tahu bagaimana arti dan makna kuliah  sesungguhnya. Hal ini pula yang mendorong penulis untuk menyusun tulisan ini dalam menuangkan uneg-uneg hasil analisa pribadi  tentang kuliah dalam pandangan sosial Bima serta bagaimana menyikapi hal itu.

            Dalam tulisan ini, penulis mengkhususkan pembahasan pada analisis sosial pendidikan Dana Mbojo(Bima) dalam memaknai kuliah itu sendiri, sebagai komponen eksternal yang mengkonstruksi  generasi muda(Mahasiswa) menjadi pribadi yang keropos dan dilema. Penulis tidak mempersoalkan komponen Internal(dalam diri) seperti, kemauan, semangat, kerja keras, disiplin dan lain sebagainya. Karena komponen Eksternal(luar diri) cukup berpengaruh dalam membentuk individu.

            Dalam melanjutkan study ke bangku kuliah setidaknya ada dua faktor sebagai komponen eksternal di Dana Mbojo(Bima) yang menjadi belenggu atas kesadaran Mahasiswa Bima. Belenggu-belenggu inilah yang sangat berpengaruh terhadap mentalitas dan sikap Mahasiswa dalam menimbah ilmu di lingkungan kampus(Kuliah). Dua faktor tersebut adalah tuntutan keluarga dan tuntutan sosial. Kedua faktor inilah yang sangat berpengaruh mem-virusi pola pikir Mahasiswa sehingga mendarah daging menjadi sikap dan karakter yang apatis, pragmatis dan hedonis. Penulis melihatnya sebagai “belenggu” berdasarkan fenomena sosial kekinian di Bima yang  kian tidak mencintai kwalitas.

            Tuntutan keluarga yang menjadi belenggu bagi seorang anak ini dapat dilihat dari tujuan orangtua mengkuliahkan anak.. Hal ini bisa dilacak dalam beberapa penggalan kalimat berikut ini dengan nada perintah ; “Lao Kuliah anaee loa ku mandadi Dou atau Lao kuliah anaee Loa ku Mantau ndi rawi”. Mungkin saja kalimat perintah ini benar pada standar pemahaman orangtua yang kebanyakan dari Low Class(Masyarakat Awam). Tapi, bagaimana dengan penafsiran generasi atau seorang anak ? diperparah oleh ketergantungan nasib yang terlalu dalam menganggap satu-satunya tolak ukur kesuksesan adalah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil(PNS) dan persaingan sosial yang tidak sehat, hingga terkadang membuat orantua rela melakukan apa saja untuk membayar mahal profesi tersebut. Hal ini tentunya meng-konstruksi mentalitas generasi menjadi patah semangat dalam menuntut Ilmu.  Ini menjadi sebuah alasan bagi mereka bahwa kuliah hanya karena memenuhi tuntutan orangtua. Tentu saja jika berbicara kesuksesan sebagaimana dimaksud adalah hal yang sangat muda dewasa ini. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan uang sebagai penentu.  Wajar saja generasi/Mahasiswa bersikap destruktif atau mementingkan hal-hal yang bersifat sementara. Toh akhirnya juga bukan kwalitas yang menentukan. Bukankah mentalitas birokrasi kita juga membuka ruang ? Tapi, tuntutan keluarga tersebut masih bisa ditunda atau dalam bahasa Bimanya( Loa ndi Kapea Kanai).

            Selanjutnya faktor yang lebih parah adalah penyakit sosial yang satu ini(Tuntutan Sosial). Inilah belenggu yang ampuh membuat generasi dilematis dalam menentukan masa depannya. Pencarian diri generasi sesungguhnya sangat terpengaruh oleh belenggu ini. Jika tuntutan keluarga masih bisa kita tunda, tuntutan yang satu ini sangat sulit dan bahkan tidak bisa ditunda(Tiloa ndi Kapea Kanai) bagi generasi yang memang kebingungan/lupa diri atau putus asa. Marilah sejenak memperhatikan fenomena sosial Dana Mbojo(Bima) hari ini yang menempatkan strata sosial lebih dominan  ditentukan oleh harta dan jabatan. Setinggi apapun ilmu anda, selihai apapun anda berbicara dan setinggi apapun titel anda, tidak akan mendapat ruang di Tanah Bima. Pada skala yang lebih luas, jabatan PNS selalu mendapat tempat istimewa dilingkungan sosial Bima, sekalipun tidak berkwlitas dan didapatkan dari hasil yang tidak etis (Kasimpa Ma Sampu).
            Kurang lebihnya demikianlah sekilas tentang penyakit sosial yang menjangkiti kebanyakan masyarakat Bima hari ini. Penulis khawatir fenomena inilah yang menjadi akar dari semua persoalan yang tengah dialami generasi(Mahasiswa) Bima. Menyikapi fenomena yang makin agresif tersebut, sudah saatnya Mahasiswa sebagai masyarakat menengah(Midle Class) yang tentunya memiliki standar pemahaman lebih dari masyarakat dan orangtua(Low Class), untuk melangkah keluar (Ekstatis) dari belenggu tersebut.

            Kata ekstatis itu sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani ekstase yang berarti melangkah keluar atau pergi melampui diri mengatasi pengalaman normal. Dalam hal ini seorang mahasiswa harus mampu melangkah keluar dari belenggu  tuntutan keluarga dan sosial yang melemahkan pembentukan dirinya sebagaimana penjelasan diatas. Ia harus mampu menemukan jalan baru untuk mengespresikan dirinya sebagai pejuang intelektual. Mahasiswa harus mampu meleburkan diri dalam proses perkuliahan sebagaimana mestinya. Kuliah harus merupakan pilihan sadar yang harus Ia jalani dengan proses pembenahan potensi diri secara maksimal. Proses yang dimaksud tentunya dengan aktif dalam berbagai aktivitas yang menjamin dalam pembenahan potensi diri. Ia harus mampu menciptakan ruang atau mencari ruang untuk menempa dan mengaktualisasikan potensinya.

            Untuk bersikap ekstatis  secara teori adalah hal yang sangat mudah. Namun pada ranah praktis mungkin sulit untuk di aktualisasikan. Apalagi bagi mahasiswa Bima yang telah terlanjur dikonstruksi oleh fenomena sosial yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran penuh dalam hal ini. Bersikap ekstatis meski dibiasakan dengan aktivitas rutin  dan dsiplin yang sengaja dibangun secara sadar. Kultur intelektual yang telah mengalami pergeseran akibat fenomena diatas mesti dihidupkan kembali.  Kesadaran membaca, berdiskusi, berkarya, dan berbagi aktivitas yang lebih bermanfaat lainya merupakan manifesto sikap ekstatis. Dan ini mesti dilakukan dengan disiplin dan pelatihan berkala yang sengaja dibangun. Dengan sendirinya, potensi diri  akan ditemukan dalam proses tersebut. Dalam mengejewantahkan sikap ekstatis, seorang mahasiswa harus menyatu dalam proses itu secara sungguh-sunguh sehingga mampu mengespresikannya dalam bentuk karya.

            Dalam melakukan hal diatas tentunya bukan hal yang muda.  Sikap ini akan dihadapkan dengan berbagai tantangan yang cukup berat. Tantangan yang tidak bisa dipungkiri adalah pengasingan dan cercaan oleh lingkungan sosial. Selain itu, harus peka terhadap rasa malu keluarga akibat persaingan sosial yang tidak sehat.  Pendidkan adalah proses yang panjang. Dengan fenomena sosial Bima sebagaimana dimaksud diatas, orang-orang yang tengah mencari diri akan dianggap gila. Oleh karena demikian dibutuhkan perisai diri sebagai benteng pertahanan dari berbagai konsekuensi tersebut. Untuk memperkuat perisai diri tentunya dengan menyadari kekurangan yang ada dan bangkit untuk membenahinya. Disisi lain dibutuhkan kemauan dan prisip diri yang kuat.

Mari melepaskan belenggu pembodohan dengan sikap ekstatis.
___ Bacaan Dou Mbojo___
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik & Saran konstruktif Pembaca sangat Kami harapkan